Blog Untuk Siswaku
Breaking News
Kamis, 08 Mei 2025
Selasa, 21 Maret 2017
KALAU BEGINI, APAKAH SUDAH AMAN???
IGI (Ikatan
Guru Indonesia) adalah merupakan salah satu organisasi profesi keguruan yang masih
sangat muda usianya. Tanggal 26 November 2009 merupakan hari jadi IGI, sehingga
pada HGN tahun 2016 IGI baru berulang tahun yang ke 7. Iya, kalau di umpamakan
seorang anak dengan usia 7 tahun dia baru masuk sekolah dasar, sehingga masih
banyak yang belum mengenalnya. Walaupun IGI sebagai organisasi baru, tapi
gerakannya seolah-olah gerakan organisasi yang sudah sangat senior sehingga IGI
dianggap sebagai organisasi saingan yang harus diperhitungkan oleh organisasi
lain. Seringkali kita mendengar di daerah-daerah terjadi gesekan-gesekan dengan
organisasi paling senior akibat dari kehadiran IGI. Menurut saya, ini terjadi
karena kurangnya komunikasi antara sesama organisasi sebelumnya.
Kabupaten
tempat saya merupakan salah satu kabupaten yang baru mengenal IGI. SK (Surat
Keputusan) kepengurusan diterbitkan pada tanggal 2 Januari 2017, sehingga masih
banyak guru-guru yang belum tau apa itu IGI. Sebagai organisasi yang baru di
kabupaten ini dan untuk menghindari terjadinya benturan-benturan di lapangan
yang tidak kita inginkan, maka saya selaku pengurus beserta teman-teman yang
lain mengagendakan untuk melaksanakan kunjungan dan mengadakan dialog bersama.
Karena kami menganggap komunikasi adalah sesuatu yang sangat penting. Dengan
komunikasi yang baik maka akan bisa terjalin juga hubungan yang baik pula.
Pada tanggal 5
Februari 2017 komunikasi yang pertama kami lakukan adalah mengadakan dialog
dengan organisasi seprofesi yaitu PGRI. PGRI merupakan organisasi paling senior
yang dimiliki negara ini, maka sepantasnya lah sebagai organisasi baru kita
menjalin kerjasama dengan orang yang kita anggap paling senior yang dalam hal
ini adalah organisasi PGRI. Sebab di lapangan nantinya kita akan berbenturan
langsung bersama karena kita sama-sama organisasi seprofesi. Mau tidak mau
persaingan akan terjadi, maka untuk menghindari terjadinya persaingan yang
tidak baik dilakukanlah dialog terlebih dahulu.
Komunikasi
selanjutnya yang dilakukan adalah berkunjung di dinas pendidikan. Pada hari
Jum’at tanggal 24 Februari 2017. Bagi saya berkunjung di dinas pendidikan dan
harus menghadap kepala dinas pendidikan adalah merupakan kunjungan yang sangat
menegangkan dan mengkhawatirkan. Mengapa? Alasannya adalah beliau adalah mantan
ketua PGRI dan loyalitasnya terhadap PGRI sudah tidak diragukan lagi, jadi
perasaan akan terjadinya penolakan terhadap IGI sudah muncul dalam benak saya
pada saat itu. Alasan selanjutnya adalah beliau merupakan pimpinan lembaga
tertinggi dalam dunia pendidikan artinya beliau juga merupakan pimpinan saya.
Mulai muncul juga di benak saya bahwa banyaknya kabar dari daerah-daerah lain
anggota IGI mendapatkan intervensi dari Kadis. Sampai isu akan di mutasi juga
muncul dalam fikiran saya. Terus terang saja rasa takut mulai muncul di benak
saya waktu itu, tapi saya mencoba untuk menenangkan diri dengan cara sambil
bercanda-canda dengan teman. Saya bersama dua orang teman yang lain pergi ke
kantor dinas pendidikan sekitar pukul 13.30 WIB. Sambil menunggu bapak Kadis
yang belum hadir waktu itu, kami bertiga ngobrol bersama tentang
strategi-strategi pembicaraan yang akan di kita bicarakan bersama bapak Kadis.
Akhirnya sekitar 1 jam menunggu akhirnya bapak Kadis pun datang juga. Kemudian
sambil mengisi buku tamu saya dan dua orang teman yang lain menunggu antrian
untuk menghadap bapak Kadis, karena selain kami juga banyak tamu yang sudah
menunggu sebelumnya. Setelah sekitar pukul 16.00 WIB dan tamu pada saat itu
sudah tidak ada lagi, tiba-tiba asisten dari bapak kadis mendatangi kami dan
mengatakan bahwa, kami diperintahkan untuk menghadap sekretaris dinas kemudian
Kabid Ketenagaan. Naaaaah looooo. Kok bisa? Padahal kita hanya mau koordinasi.
Apa hubungannya dengan sekretaris dinas dan Kabid Ketenagaan? Rasa curiga mulai
muncul di benak kami bahwa Kadis mau mempersulit gerakan para pengurus IGI.
Tapi saya dan teman-teman menganggap ini tantangan. “Kita ikuti saja dulu apa
yang beliau inginkan” sahut salah seorang dari kami. Kami langsung saja menuju
ke ruangan sekretaris dinas. Untung saja bapak sekretaris dinas belum pulang.
Disini kami kembali menunggu, sebab bapak sekretaris sedang sibuk dan ada tamu.
Sambil menungguu kami bersepakat untuk melaksanakan sholat Ashar secara
bergantian, takutnya ketika kami sholat Ashar secara bersama-sama bapak
sekretaris malah pulang. Jadi sekitar 1 jam lagi kami menunggu kembali.
Akhirnya sekitar pukul 17.00 WIB, bapak sekretaris pun baru bisa menemui kami.
Bayangkan dari 13.30 – 17.00 WIB perjuangan kami. Sekitar 3 jam 30 menit kami
menunggu, barulah bisa menemui salah satu pembesar dari dinas pendidikan.
Setelah kami jelaskan tentang IGI kepada bapak sekretaris, Alhamdulillah
tanggapan dari bapak sekretaris sangat positif tentang keberadaan IGI. Pesan
bapak sekretaris waktu itu adalah “Jadikan organisasi ini benar-benar
organisasi yang sesuai dengan tujuan utamanya, yaitu untuk meningkatkan kompetensi
guru jangan sampai disalahgunakan seperti masuk dalam dunia politik. Semua itu
tergantung dari pengurus yang ada”. Mungkin itu sedikit dari pesan bapak
sekretaris terhadap kami para pengurus IGI Daerah. Setelah menghadap bapak
sekretaris kami langsung pulang karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul
17.30 WIB. Kami bersepakat akan melanjutkan menghadap Bapak Kepala Bidang
Ketenagaan sesuai perintah dari Bapak Kepala Dinas. Pada hari seninnya, sekitar
pukul 14.00 WIB, kami langsung menghadap Bapak Kabid Ketenagaan dan hasilnya
hampir sama dengan Bapak Sekretaris bahwa beliau menyambut baik kehadiran IGI
dan harapan dari beliau supaya IGI bisa bekerjasama dengan Dinas Pendidikan
untuk saling membantu meningkatkan mutunya guru. Tidak butuh waktu lama
menghadap Bapak Kabid, hanya butuh waktu sekitar 30 menit berbicara bersama
beliau. Setelah itu kami langsung menuju ruangan Bapak Kepala Dinas dan pada
saat itu beliau belum hadir, kembali acara menunggu kami lakukan. Kami terus
menunggu sekitar 2 jam tetap belum juga ada tanda-tanda kedatangan Bapak Kepala
Dinas. Ternyata informasi dari asistennya bahwa Bapak Kepala Dinas ada kegiatan
dan tidak bisa hadir ke kantor. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB.
Kami bergegas pulang. Tapi sebelum pulang kami bersepakat untuk duduk nyantai
di warung kopi terlebih dahulu sambil membicarakan IGI kedepannya. Apakah kita
masih berusaha ketemu Bapak Kepala Dinas atau kita tinggalkan saja? Tidak lama
kami duduk santai, saya mendapat telpon dari teman bahwa kawan-kawan IGI di
undang Bapak Kepala Dinas ke rumahnya malam ini juga jam 19.00 wib. Saya
langsung kaget mendengar berita itu. Rasa takut, was-was kembali datang. Kami berdiskusi
bahwa kita pasti dipertemukan bersama pengurus-pengurus PGRI, sebab jauh hari
sebelumnya waktu saya mengirimkan berkas tentang legalitas IGI melalui bantuan
dari pengawas sekolah saya, Bapak Kepala Dinas mengatakan bahwa “Oooooh, ini
adalah saingan PGRI dan harus saya pertemukan dengan PGRI”. Nah kata-kata itu yang
saya ingat terus, informasi dari pengawas sekolah. Wah kacau kalau PGRI bertemu
kami di hadapan Kepala Dinas pasti PGRI mulai ngotot tidak mau menerima
keberadaan IGI karena di dukung oleh kepala dinas yang notabenenya mantan ketua
PGRI, pikiran saya pada saat itu. Karena rasa takut, was-was bercampur jadi
satu sampai-sampai jajan yang di hidangkan di atas meja kami habis di lahap dua
orang teman tanpa saya sadari, hehehehe. Benar-benar stres saya di buatnya pada
waktu itu. “ini sudah resiko, ini bumbu-bumbu organisasi bro” ucap salah satu
dari teman sambil menyantap jajan. Kayaknya mereka tanpa ada beban sedikitpun.
Malam harinya, acara pertemuan pun sudah tiba kami waktu itu bertiga
mengunjungi rumah Bapak Kepala Dinas. Apa yang terjadi? Ternyata apa yang saya
khawatirkan selama ini berbanding terbalik dari kenyataan sangat bertolak
belakang 180o dari yang saya perkirakan. Bapak Kepala Dinas sangat
bijaksana. Beliau sangat antusias terhadap IGI. Bahkan saya beranggapan bahwa
dari sekian banyak kunjungan yang telah kami lakukan, kunjungan dengan Bapak
Kepala Dinas lah yang sangat berkesan dan paling lama. Bayangkan saja dari jam
19.00 WIB sampai dengan 22.00 WIB.
Setelah
kunjungan bersama Dinas Pendidikan kami anggap selesai dan menghasilkan hasil
yang sangat memuaskan. Selanjutnya kami mengagendakan untuk ketemu dengan orang
nomor satu di Kabupaten yaitu Bapak Bupati. Tapi sebelum menghadap Bapak Bupati,
secara aturan kami harus menghadap asistennya terlebih dahulu. Maka tanggal 28
Februari 2017 akhirnya asisten Bupati mau menerima kami dan kembali hasilnya
hampir sama bahwa sangat mendukung akan kehadiran IGI sebagai wadah untuk
meningkatkan sumber daya manusia dan ini sesuai juga dengan Visi dan Misi dari
Bapak Bupati yaitu “Meningkatkan kualitas sumber daya manusia”. Sampai tulisan
ini di buat, saya belum menerima agenda pertemuan dengan Bapak Bupati.
Dari hasil
kunjungan dan pertemuan yang telah kami lakukan, bisa diambil kesimpulan bahwa
hadirnya IGI dalam bidang pendidikan sebenarnya membawa angin segar terhadap
dunia pendidikan itu sendiri. Hal ini di buktikan dari tanggapan-tanggapan para
pemangku kebijakan yang kami datangi. Rata-rata semuanya mendukung akan visi
dan misinya IGI. Yang menjadi persoalan kemudian mengapa masih sering kita
mendengar di daerah-daerah lain adanya penolakan terhadap IGI, adanya
intimidasi terhadap para pengurus IGI. Menurut saya karena faktor komunikasi
awal yang kurang dilakukan, sehingga hanya isu negatif yang lebih banyak
berkembang.
Melihat
dari perjalanan di atas timbul sebuah pertanyaan, apakah IGI di tempat saya
sudah aman? Apakah kami sudah puas dengan hasil itu? Harapan kami bersama
hanyalah semoga dengan wadah adanya IGI kita bisa menambah amal ibadah, bisa
menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Amin.Senin, 13 Maret 2017
KENYATAAN YANG TERBALIK
Pada tulisan saya sebelumnya
yang saya kasi judul “Perjuangan
Mengenal dan Memperkenalkan IGI” menjelaskan bahwa awal saya masuk IGI dari
sebuah pelatihan secara online yaitu SAGUSANOV sekitat pertengahan tahun 2016.
Ketertarikan terhadap IGI berlanjut pada
bulan Desember 2016 ketika ada kegiatan
TOC Dili Provinsi
Kalimantan Barat yaitu
Pontianak. Saya beserta
1 orang teman
pergi bersama dengan mengeluarkan biaya sendiri demi untuk mendapatkan
ilmu yang mungkin selama ini tidak
kami dapatkan. Disinilah
sebenarnya Mengapa Saya
sangat tertarik bergabung
bersama IGI karena saya berharap
akan banyak belajar dari orang -orang hebat di IGI. Ilmu yang saya dapatkan di IGI akan saya terapkan dalam proses belajar
mengajar di kelas saya sendi ri dan
harapan saya supaya siswa-siswa
akan sangat senang
karena model pembelajaran
yang saya tampilkan
selalu berubahubah. Itu adalah pandangan atau cita cita ke depan
saya. Ternyata apa yang terjadi? Cita-cita saya malah berbanding terbalik
dengan kenyataan. Niat awalnya hanya
untuk mendapatkan ilmu dengan belajar banyak di IGI, tapi sekarang saya harus menyampaikan ilmu
yang saya dapatkan buat guruguru lain. Sebuah kenyataan yang tidak terbayangkan
dalam benakku selama ini.
Menjadi pemateri, menjadi ketua IGI Daerah dan sekarang
harus di sibukkan dengan mengundang
teman-teman guru untuk belajar dalam sebuah kegiatan nasional
benar-benar sebuah kenyataan yang harus
saya hadapi sekarang. Bahkan sekarang
program rutin setiap hari Rabu saya bersama rekan harus membimbing
guru-guru untuk belajar komputer. Mungkin tidak bisa dipungkiri bahwa, masih banyak guru-guru kita yang perlu
mendapatkan bimbingan terutama mengenalkan mereka terhadap teknologi. Kini
kita hidup dijaman
teknologi mau tidak
mau kita sebagai
seorang guru harus
bisa menyesuaikan diri. Program
belajar bersama setiap
hari Rabu sudah
dilaksanakan sekitar 5 kali
pertemuan. Disini kita belajar bersama
benar-benar berangkat dari nol. Belajar
dari program paling sederhana yaitu
Microsoft Word. Di sini Saya melihat betapa besar antusias para
guru untuk belajar.Mereka terutama para
guru wanita rela
membawa makanan sendiri
kemudian dimakan bersama sama.
Bahkan suatu ketika pada hari Rabu tanggal 15 Februari 2017 adalah
ditetapkannya hari libur nasional karena adanya pemilihan gubernur dan kepala
daerah serentak seluruh Indonesia, mereka (para guru) minta diganti kan waktu belajar itu dihari yang lain. Di sini terlihat bahwa semangat belajar para guru
kita sebenarnya tinggi,
yang menjadi persoalan
adalah Apakah kita
siap membimbing mereka dengan
penuh keikhlasan? Waktu,tenaga, fikiran
disini memang harus siap Kita korbankan demi untuk kemajuan bersama.
Benar-benar sebuah kenyataan
yang berbanding terbalik, awalnya hanya berniat untuk mencari ilmu
melalui IGI, ternyata harus
membagikan ilmu terhadap sesama guru.
Supriadi
Guru SMP N 1 MHUSelasa, 10 Januari 2017
KETELA POHON UNTUK PENDIDIKAN
Mungkin semua kita tahu jam
berapa diatas. Benar sekali itu adalah gambar ketela pohon (ubi). Ada sesuatu
yang menarik hari ini ketika menjemput anakku yang masih kelas 4 SD pulang
sekolah. Aku melihat dia keluar dari kelasnya dengan wajah yang sangat gembira
dan langsung berlari menghampiri saya sambil membawa sebatang ketela pohon.
"Pak ini adalah hadiah dari bapak guru sebab kelompok saya mendapatkan
nilai tertinggi dalam menyelesaikan tugas kelompok" ucapnya sambil
menunjukkan sebatang ketela pohon yang menjadi kebanggaannya saya hanya bilang
"hebat Selamat atas keberhasilannya dan teruslah belajar".
Dari cerita diatas ada hal
yang sangat menarik untuk bisa kita jadikan pelajaran terutama dalam dunia
pendidikan. Saya secara pribadi salut terhadap gurunya anakku yang mempunyai
inisiatif untuk menjadikan sebatang ketela pohon untuk sebagai hadiah dan Ini
mendapat sambutan yang sangat positif dari para siswanya.
Pemberian penghargaan atau
apresiasi kepada siswa sebenarnya merupakan hal yang penting untuk menumbuhkan
semangat belajar mereka, tapi hal tersebut kita anggap hal biasa biasa saja.
Memberikan penghargaan kepada siswa sebagai tanda penghargaan tidak selamanya
harus bernilai dengan uang. Ketika siswa maju untuk mengerjakan pekerjaannya di
papan tulis dan setelah mengerjakan kemudian kita ucapkan
"terimakasih" juga sudah termasuk penghargaan. Tepuk tangan dari
teman-teman siswa, juga merupakan penghargaan terhadap siswa. Tapi model-model
penghargaan di atas mungkin di antara para guru sudah ada yang menerapkan.
Memberikan penghargaan dalam
bentuk pemberian sebatang ketela ini merupakan hal yang baru dan unik bagi
saya. Selaku seorang guru ternyata tanaman yang berada di sekeliling kita bisa
juga dijadikan sebagai media untuk menumbuhkan semangat belajar. Harapan Kita
sebagai seorang guru semoga ada ide-ide kreatif lainnya yang terus dapat
meningkatkan mutu pendidikan.
Senin, 09 Januari 2017
KENANGAN 16 TAHUN YANG LALU
Hari
ini Jum’at 6 januari 2017 adalah Jum’at pertama di tahun 2017, memiliki
kenangan tersendiri dalam perjalanan hidupku. Hari Jum’at kali ini seakan-akan
telah membuka memori panjangku sekitar 16 tahun yang lalu. Sebuah kenangan yang
tidak mungkin terlupakan pada saat masa-masa sekolah di Madrasah Aliyah Negeri
(MAN) Ketapang.
Masjid
Al Amin. Ya masjid merupakan masjid yang berada di Desa Kauman Kec. Benua
Kayong Kab. Ketapang. Masjid Al Amin ini adalah merupakan masjid penduduk
sekitar karena letaknya berdekatan dengan MAN maka masjid ini di manfaatkan
murid-murid MAN untuk melaksanakan sholat, kebetulan pada saat itu MAN Ketapang
belum memiliki masjid sendiri. Pada tahun pertama sekolah di MAN hampir setiap
hari saya melaksanakan sholat Ashar di masjid ini kecuali hari libur sekolah.
Mengapa sholat Ashar? Sebab untuk siswa kelas 1 (sekarang dikenal dengan kelas
X) masuk pada siang hari kira-kira pukul 12.00 WIB. sebab faktor dari ruang
kelas yang tidak memadai dengan jumlah siswa waktu itu. Pada saat itulah awal
pertama kami siswa-siswa MAN melaksanakan sholat di Masjid Al Amin. Pada tahun
kedua dan ketiga atau pada saat kelas dua dan kelas 3 (sekarang kelas XI dan
kelas XII) kami sudah masuk pagi maka kami lebih sering melaksanakan sholat
Dzuhur di Masjid Al Amin bahkan ada sebagian melaksanakan sholat Duha.
Tiga
tahun di MAN Ketapang dan tiga tahun itu juga aku dan teman-teman hampir setiap
hari melaksanakan sholat berjamaah di masjid ini. Sebuah kenangan yang benar-benar
pasti aku kanang sampai kapan pun bahkan akan aku jadikan sebuah cerita indah
untuk anak-anakku bahwa Bapaknya sering melaksanakan sholat di masjid ini pada
saat sekolah dulu.
Dari
semenjak lulus di MAN pada tahun 2001 aku sudah tidak pernah sholat di masjid
ini. Kemudian 6 Januari 2017 kemaren aku kembali menginjakkan kakiku di masjid
ini. Ada perasaan haru, gembira semua
bercampur menjadi satu seolah-olah kenangan-kenangan dulu kembali lagi. Kini
masjid ini sudah banyak perubahan karena sudah di renovasi. Yang paling sangat
membekas dalam ingatanku adalah tempat wudhu. Sebuah kolam besar di mana semua
siswa baik laki-laki maupun perempuan berwudhu di sana. Tapi kini sudah tidak
ada lagi semua sudah di uruk dan di buat permanen dengan banyak kran airnya.
Mungkin di sebagian teman yang lain hal ini merupakan hal yang biasa tapi
bagiaku tidak. Karena sudah sekian lama sekitar 16 tahun baru kali ini aku
melaksanakan sholat di sini. Sebuah memori panjang kembali teringat.
Minggu, 30 Oktober 2016
Karya Hebat Dari Orang-Orang Hebat
Membuat media pembelajaran berbasis android munkin merupakan sebuah karya terbaik. Bagiku sebagai seorang guru yang berasal dari desa memiliki sebuah akun di google play tore kemudian bisa membuat aplikasi pembelajaran dan bisa di manfaatkan semua orang merupakan hasil karya terbesar yang pernah aku miliki. Aplikasi inilah yang kemudian aku manfaatkan dalam proses belajar mengajar di kelas dan hasilnya Alhamdulillah siswa-siswaku terbantu dengan pemanfaatan aplikasi tersbut.
Pembuatan aplikasi ini bermula dari seorang teman yang mengupload hasil karyanya di media sosial facebook pada bulan puasa tahun 2016. aku penasaran dengan aplikasi tersebuat kemudian aku mendownloadnya. Setelah aku mendownload ternyata isinya adalah media pembelajaran TIK untuk kelas IX SMP. Didalam aplikasi tersebut berisi inovator atau profil penjelasan tentang penulis. Selanjutnya ada materi yang di sampaikan permasing-masing BAB dan beberapa soal-soal sebagai tahap latihan untuk siswa. Aku semakin penasaran, bagaimana cara membuat aplikasi tersebut? Sebab saya merasa bahwa hal ini akan sangat membantu dalam proses belajar mengajar karena sekarang jamannya sudah mempunyai HP Android mengapa tidak di manfaatkan sebagai media pembelajaran.
Akibat dari rasa penasaran yang tinggi, aku langsung bertanya dengan teman di media sosial facebook, bagaimana cara membuat aplikasi tersebut? Kemdian dia menyarankan kepada ku untuk bergabung dengan grup Telegram yang bernama grup Telegram SAGUSANOV (Satu Guru Satu Inovasi). Grup ini adalah grup yang di buat oleh seorang guru dari Pasuruan Jawa Timur. Grup inilah yang memberikan pelatihan membuat media pembelajaran berbasis Android. Dalam pelatihan ini ada tahapan yang harus peserta jalankan, yakni mulai dari menginstal aplikasi pendukung sampai tahap mengunggah APP ke Play Store. Pada saat pelatihan tersebut, setiap tahapan yang telah di laksanakan, kita wajib melaporkan hasil pekerjaan kita di grup Telegram tersebut dan mengisi absen bahwa kita telah melaksanakan atau telah mengerjakan tugas tahap itu.
Dalam mengisi absen laporan, kita di perintahkan untuk menulis nama, asal daerah dan nomor keanggota IGI (Ikatan Guru Indonesia). Nah ini juga merupakan hal yang juga merupakan baru bagiku, tentang nomor keanggotaan IGI. Ternyata ada organisasi untuk guru selain PGRI yang berkosentrasi dalam bidang peningkatan kompetensi guru. Disini lah pertama kalinya aku juga mengenal IGI. Aku merasa ini merupakan salah satu organisasi yang sangat aku butuhkan, akhirnya aku langsung saja mendaftar sebagai anggota igi. Dari organisasi inilah aku juga berteman dengan orang-orang hebat melalui Facebook. Sampai artikel ini aku tulis, aku juga sudah menyelesaikan workshop SAGUSABLOG (Satu Guru Satu Blog) yang melatih kita untuk membuat blog pembelajaran yang akan banyak sekali manfaatnya bagi dunia pendidikan.
Aku hanyalah guru dari desa yang mungkin untuk mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan tidak sebesar guru-guru yang ada di perkotaan. Maka solusinya adalah berusaha sendiri untuk mengembangkan diri supaya tidak ketinggalan adalah jalan yang terbaik. Sekarang jamannya sudah serba canggih kita bisa belajar dengan siapa saja dan di mana saja dengan menggunakan kemajuan teknologi.
Kuala Tolak, 30 Oktober 2016
Sabtu, 07 Mei 2016
Pertemuan Terakhir Menuju UN
Salam Penutup Pembelajaran
"Siap hormat, ........... Terimakasih Paaaaak" Kata itu menandakan akhir dari pembelajaran di dalam kelas. Tapi kata-kata itu sekarang di ucapkan dari lubuk hati yang paling dalam oleh siswa-siswa kelas IX SMP Negeri 1 Matan Hilir Utara karena menunjukkan bahwa pelajaran Matematika yaitu pelajaran yang saya ampu sudah berakhir. Berakhir di sini bukan berarti berakhir pada pertemuan waktu itu saja dan akan di lanjutkan pada pertemuan yang akan datang, tetapi berakhir di sini adalah berakhir untuk selamanya karena setelah pertemuan kali ini mereka akan menghadapi Ujian Nasional.
Sebagai seorang guru saya selalu memberikan nasehat kepada siswa, terlebih untuk siswa yang akan menghadapi Ujian nasional. Bagi saya nasehat sangatlah penting buat mereka yang akan menghadapi ujian nasional, sebab kebanyakan selama ini siswa pada ketakutan ketika di akan menghadapi ujian nasional. Menurut saya salah satu waktu yang paling tepat untuk memberikan nasehat kepada siswa adalah pertemuan terakhir menjelang ujian nasional. Ini mungkin yang membedakan saya dengan guru-guru yang lain.
Pertemuan terakhir menjelang ujian nasional selalu saya manfaatkan untuk berpamitan bersama siswa, meminta maaf karena mereka tidak akan pernah bertemua gurunya lagi dan pelajaran-pelajaran selama SMP lagi secara formal termasuk pelajaran Matematika karena setelah ini mereka akan menjalani ujian nasional dan akan lulus kemudian melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Pada pertemuan terakhir ini juga saya mengajak para siswa untuk melihat kebelakang tentang sejarah perjalanan mereka selama sekolah di SMP tentang suka dan duka selama tiga tahun berjuang belajar bersama dan kini sudah berakhir.
"Semua kenangan suka maupun duka selama ini, sekarang akan menjadi sebuah sejarah atau kisah terindah dalam kehidupan kamu" tutur saya kepada siswa. "kelas ini, papantulis, bangku dan semuanya yang ada di sini sekarang akan menjadi saksi bisu bahwa kalian pernah berada di sini dan belajar disini. Jangan lupakan sekolah ini yang pernah hadir dalam kehidupan kalian" lanjut saya sambil membangkitkan kesadaran meraka dan memotivasi para siswa.
Tidak sedikit di antara para siswa yang mengeluarkan air mata. Di sini menunjukkan bahwa, selama ini jika kita berbicara masalah kenakalan siswa, kemalasan siswa.
SMP Negeri 1 MHU
Langganan:
Komentar (Atom)
.png)




